Jumat, 30 Januari 2015

Keutamaan Shalat Di awal Waktu

    Istilah shalat di awal waktu adalah pendapat para ulama dalam menafsirkan "ash-sholatu 'ala waqtiha" (sholat tepat pada waktunya) sebagai salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT. 
Ayat Al-Quran dan hadits tidak menyebutkan istilah "shalat di awal waktu" secara mendetail. Namun, bukan berarti ini menjadi "pembenaran" atau jadi alasan untuk menunda-nunda atau mengulur-ulur waktu pelaksanaan shalat.

 
    Hadits Rasulullah Saw tentang keutamaan shalat pada waktunya terdapat dalam Shahih Bukari dan Muslim yang artinya:
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, dan Jihad di jalan Allah Swt.” (HR Bukhari & Muslim).

    Nabi Saw menyebutkan "Shalat pada waktunya" karena memang shalat wajib (fardhu) dalam Islam --Subuh, Zhuhur, Ashar, Magrib, dan Isya-- sudah tentukan waktunya oleh Allah SWT. 
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa : 103).

    Seorang Muslim dilarang shalat di luar waktu yang telah ditentukan. Yang mungkin paling sering terjadi adalah "bangun kesiangan" sehingga shalat Subuhnya berada di luar waktu Subuh.
Shalat di awal waktu menunjukkan tingkat keimanan, ketakwaan, dan kecintaan kepada Allah SWT. Kecintaan kepada Allah (mahabbatullah) akan melahirkan rasa rindu selalu ingin bertemu. Dan pertemuan dengan Allah terutama terjadi dalam Shalat.
    Lagi pula, dengan segera shalat, seorang mukmin berarti menunjukkan ingin segera diampuni dosa-dosanya oleh allah swt.
“Sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran.” (HR Muslim).

Hikmah dan Berkah Shalat di Awal Waktu

     Hikmah dan berkah terbesar shalat di awal waktu atau shalat pada waktunya adalah masuk surga.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Allah Ta’ala berfirman: " ‘Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu shalat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barangsiapa yang menjaga waktu-waktunya pasti Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan".

    Hikmah dan berkah lainnya adalah setiap perpindahan waktu sholat, bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, psikologis, dan lainnya. 

    Berikut ini kaitan antara shalat di awal waktu dengan warna alam sebagaimana dikemukakan para ahli yang dikutip SyaamilQuran.com dari  Motivasi Islami Abadi, terutama untuk kesehatan jasmani dan rohani:

1. Waktu Subuh
    Alam berwarna biru muda simbol kekuatan tenaga alam. Saat awal waktu Subuh (azan Subuh berkumandang), tenaga alam berada pada tingkatan yang optimal. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu kita sedang ruku dan sujud.

2. Waktu Zhuhur
    Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kepada perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh terhadap hati. Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dengan keceriaan seseorang. Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Zuhur berulang kali akan menghadapi masalah pada sistem pencernaan mereka serta akan menyebabkan berkurang keceriaannya.

3. Waktu Ashar. 
    Alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium/ indung telur dan testis yang merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan. Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu organ-organ reproduksi ini juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.

4. Waktu Maghrib. 
    Warna alam kembali berubah menjadi merah. Sering pada waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tidak berada di luar rumah. Nasehat tersebut ada benarnya karena pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. 
Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karena mereka ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu. Hal ini lebih baik dan lebih selamat karena pada waktu ini banyak gangguan atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yang bisa mengganggu penglihatan kita.

5. Waktu Isya
    Pada waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak kita. 
Mereka yang sering ketinggalan waktu Isya akan sering merasa gelisah. Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini. Dengan tidur pada waktu Isya, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4 Hertz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat. 
    Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu dan ungu. Perubahan warna ini selaras dengan kelenjar pineal (badan pineal atau “mata ketiga”, sebuah kelenjar endokrin pada otak) kelenjar pituitary, thalamus(struktur simetris garis tengah dalam otak yang fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dengan pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus (bagian otak yang terdiri dari sejumlah nucleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu). Maka sebaiknya kita bangun lagi pada waktu ini untuk mengerjakan sholat malam (tahajud).

(sumber:www.risalah islam.com)

Kamis, 29 Januari 2015

Menghargai Perbedaan Aliran Islam Dalam Msyarakat

 
     Allah swt menciptakan manusia secara bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dia menjadikan manusia penuh perdedaan pasti memiliki rencana terhadap manusia. Sebab allah tidak mungkin menciptakan sesuatu secara sia-sia.
    Allah swt berfirman:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات :
Artinya :
 “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S Al Hujurat:13)

      Ayat tersebut telah menggambarkan dengan jelas bahwa perbedaan merupakan rahmat di mana kita harus menyikapinya dengan saling bertoleransi. Apabi;a allah menginginkan manusia menjadi satu tipe saja, maka hal tersebut amatlah mudah baginya. Oleh karena itu kita tidak sepatutnya mempertengkarkan perbedaan-perbedaan di antara sesama umat muslim.
    Hal ini juga berlaku bagi penyikapan terhadap perbedaan-perbedaan pemahaman aliran dalam islam di masyarakat. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menyikapi perbedaan yang ada dengan sikap toleransi dan terbuka.
 
    Untuk menghindari pertentangan dan menanamkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari, dapat di lakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
  1. Membuka ruang dialog kepada sesama umat muslim yang memiliki perbedaan pandangan untuk mencapai titik temu permasalahan tersebut.
  2. Tidak menyebarkan paham truth of claim (klaim kebenaran) atas pandangan pribadi, yang kemudian menyalahkan aliran-aliran lainnya.
  3. Tidak menggunakan jalan kekerasan dalam menyikapi perbedaan pandanganajaran islam.
  4. Selalu mengingat bahwa umat muslim adalah bersaudara, sehingga menciptakan suasana perdamaian, ketenangan dan toleransi.
  5. Menyadari bahwa kebenaran tertinggi adalah milik allah, manusia hanya berusaha mendekati kebenaran yang ditetapkan oleh allah dalam ayat-ayatnya.

Senin, 26 Januari 2015

Manusia yang terbaik itu adalah orang yang bermanfaat bagi sesama, ramah, dan suka menolong orang lain.

Manusia yang terbaik itu adalah orang yang bermanfaat bagi sesama, ramah, dan suka menolong orang lain. 

    Banyak hadits yang menerangkan tentang hubungan antar sesama manusia. Salah satu hadits yang sudah sangat sering kita dengar salah satunya hadits yang berbunyi خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa'uhum linnas). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.


    Hadits shahih yang berisi tentang sebaik-baik manusia ini diriwayatkan dari Jabir. Ia berkata,”Rasulullah Saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

     Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu Umar, bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah  dan amal apakah yang paling dicintai Allah Swt?” 

     Rasulullah Saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan." 




 
     Rasulullah Saw meneruskan sabdanya: "Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani).

     Dari kedua hadits tersebut, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain, ramah, dan suka menolong sesama atau  yang memberikan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia terbaik tersebut. Amin!

   
    Berikut ini adalah kiat-kiat agar menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain:

  1.  berusaha untuk membantu mengurangi beban atau kesusahan orang lain
  2. bersikap ramah kepada setiap orang
  3. menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan kita
  4. sedekah dan zakat. dll
(sumber:risalahislam.com)

Kamis, 22 Januari 2015

Definisi Jihad Dalam Islam

 Definisi Jihad Dalam Islam


    Pengertian jihad yang sebenarnya harus dipahami dengan baik dan disosialisasikan oleh para kaum Muslim kepada publik agar tidak terjadi miskonsepsi, mispersepsi, dan misunderstanding tentang konsep jihad dalam Islam.
    Pengertian jihad pada masa ini tampak makin "menyempit", yaitu hanya dipahami sebagai “perang suci” (holy war) atau “perang bersenjata” (jihad fisik atau dilakukan secara militer). Bahkan, dewasa ini kalangan masyarakat Barat kerap mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme, bahkan terorisme.
    Aksi kekerasan yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan dan perjuangan sebuah gerakan Islam oleh bangsa Barat sering disebut dengan aksi “terorisme”.Dan sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini bahwa itu sebagai salah satu manifestasi jihad fi sabilillah.
       Bagi para mujahid sebutan bagi orang-orang yang berjihad, mati syahid adalah cita-cita mereka karena para syuhada dijamin akan masuk surga.

Secara Bahasa Jihad Berarti:

    Kata jihad berasal dari bahasa arab yaitu dari kata “jahada” atau ”jahdun” (جَهْدٌ) yang memiliki arti “usaha” sedangkan “juhdun” ( جُهْدٌ) berarti kekuatan.

    Secara bahasa, asal makna kata jihad adalah "mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan yang diyakini bahwa jalan itulah yang benar".
    Menurut Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi Saw, secara bahasa jihad memiliki arti “mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi”.


Secara Istilah Jihad Berarti:

    Jihad secara istilah memiliki arti yang sangat luas, mulai dari mencari nafkah hingga berperang melawan kaum kuffar atau kafir yang memerangi Islam dan kaum Muslim.
    Dalam istilah syariat, jihad berarti mengerahkan seluruh daya kekuatan untuk memerangi orang kafir dan para pemberontak.
    Menurut Ibnu Taimiyah, jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai oleh Allah        berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.
    Makna jihad lebih luas cakupannya daripada aktivitas perang. Jihad meliputi pengertian perang, membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu, dan menghadapi setan.
    Kata “jihad” dalam bentuk fiil maupun isim disebut sebanyak 41 kali dalam Al-Qur’an, sebagian tidak berhubungan dengan perang dan sebagiannya lagi berhubungan dengan perang.

Makna Jihad Secara Umum:

    Secara umum, sebagian ulama mendefinisikan jihad sebagai “segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan agama Islam dan pemberantasan kedzaliman serta kejahatan, baik terhadap diri sendiri maupun dalam masyarakat.”
    Ada juga yang mengartikan jihad sebagai “berjuang dengan segala pengorbanan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Allah (Islam) atau membela kepentingan agama dan umat Islam.”
    Kata-kata jihad dalam al-Quran kebanyakan mengandung pengertian umum. Artinya, pengertiannya tidak hanya terbatas pada peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala bentuk kegiatan dan usaha yang maksimal dalam rangka dakwah Islam, amar makruf nahyi munkar (memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran).
    Dalam pengertian umum ini, berjihad harus terus berlangsung baik dalam keadaan perang maupun damai, karena tegaknya Islam bergantung pada jihad.


Makna Jihad Secara Khusus:

    Jihad dalam arti khusus bermakna “perang melawan kaum kafir atau musuh-musuh Islam”. Pengertian seperti itu antara lain dikemukakan oleh Imam Syafi’i bahwa jihad adalah “memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam”. 
Juga sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Atsir, jihad berarti “memerangi orang Kafir dengan bersungguh-sungguh, menghabiskan daya dan tenaga dalam menghadapi mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan.”
    Pengertian jihad secara khusus inilah yang berkaitan dengan peperangan, pertempuran, atau aksi-aksi militer untuk menghadapi musuh-musuh Islam.
    Kewajiban jihad dalam arti khusus ini (berperang, red) tiba bagi umat Islam, apabila atau dengan syarat: 
  1. Agama Islam dan kaum Muslim mendapat ancaman atau diperangi lebih dulu (QS 22:39, 2:190)
  2. Islam dan kaum Muslim mendapat gangguan yang akan mengancam eksistensinya  (QS 8:39)
  3. Untuk menegakkan kebebasan beragama (QS 8:39)
  4. Membela orang-orang yang tertindas (QS 4:75).

Banyak sekali ayat al-Quran yang berbicara tentang jihad dalam arti khusus ini (perang), antara lain: 
  1. Tentang keharusan siaga perang (QS 3:200, 4:71); 
  2. Ketentuan atau etika perang (QS 2:190,193, 4:75, 9:12, 66:9); 
  3. Sikap menghadapi orang kafir dalam perang (QS 47:4), 
  4. Uzur yang dibenarkan tidak ikut perang (QS 9:91-92). 

Ayat yang secara khusus menegaskan hukum perang dalam Islam bisa disimak pada QS 2:216-218 yang mewajibkan umat Islam berperang demi membela Islam. Dan, perang dalam Islam sifatnya “untuk membela atau mempertahankan diri” (defensif), sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS 2:190).

    

Tujuan Jihad:

Yang menjadi latar belakang perlunya berjihad didasarkan pada al-Quran, antara lain Surat at-Taubah:13-15 dan an-Nisa:75-76, yakni:

(a) Mempertahankan diri, kehormatan, dan harta dari tindakan sewenang-wenang musuh,
(b) Memberantas kedzaliman yang ditujukan pada umat Islam,
(c) Membantu orang-orang yang lemah (kaum dhu’afa), dan
(d) Mewujudkan keadilan dan kebenaran.

Hukum Jihad Adalah Wajib:

Jihad merupakan kewajiban setiap orang beriman. Perintah jihad merupakan salah satu ujian Allah SWT untuk menguji sejauh mana keimanan seseorang. Firman Allah SWT,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja) sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman?” (QS 9:16)

Dalam al-Quran, kata jihad hampir selalu diikuti dengan kalimat fi sabilillah (di jalan Allah), menjadi jihad fi sabilillah, yaitu berjuang melalui segala jalan dengan niat untuk menuju keridhaan Allah SWT (mardhatillah) dalam rangka mengesakan Allah SWT (menegakkan tauhidullah), dan bahwa jihad harus dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah serta norma-norma yang telah ditentukan Allah SWT.


Macam-Macam Jihad:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS 9:20)

Berdasarkan ayat tersebut, jihad terbagi dua, yaitu
1. Jihadul Maali (jihad dengan harta)
2. Jihadun Nafsi (jihad dengan diri atau jiwa raga).

Jihad dengan harta yaitu berjuang membela kepentingan agama dan umat Islam dengan menggunaan materi (harta kekayaan) yang dimiliki.

Jihadunnafsi yaitu berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri berupa tenaga, pikiran, ilmu, kerampilan, bahkan nyawa sekalipun.

Ibnu Qayyim membagi jihad ke dalam tiga kategori dilihat dari pelaksanaannya, yaitu
1. Jihad mutlak,
2. Jihad hujjah,
3. Jihad ‘amm.

Jihad mutlak adalah perang melawan musuh di medan pertempuran (berjuang secara fisik). Jihad hujjah adalah jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat tentang kebenaran Islam (berdiskusi, debat, atau dialog).

Ibnu Taimiyah menanamakan jihad macam ini sebagai “jihad dengan lisan” (jihad bil lisan) atau “jihad dengan ilmu dan penjelasan” (jihad bil ‘ilmi wal bayan). Dalam hal ini, kemampuan ilmiah dan berijtihad termasuk di dalamnya.

Sedangkan jihad ‘amm (jihad umum) yaitu jihad yang mencakup segala aspek kehidupan baik yang bersifat moral maupun material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jihad ini dilakukan dengan mengorbankan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini adalah menghadapi musuh berupa diri sendiri (hawa nafsu), setan, ataupun musuh-musuh Islam (manusia).

Macam-Macam Jihad Menurut Imam Al-Ghazali:
1. Jihad Zahir -- jihad melawan orang yang tidak menyembah Allah SWT. 
2. Jihad menghadapi orang yang menyebarkan ilmu dan hujjah yang batil.
3- Berjihad melawan nafsu yang sentiasa menyeret manusia ke arah kejahatan. (Kitab Penenang Jiwa, Imam Al-Ghazali)

Ayat-Ayat dan Hadits yang menerangkan tentang Jihad:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah , mereka itu mengharapkan rahmat Allah , dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah:218)
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah ), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Al Baqarah:273) 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali 'Imran:142)

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (An Nisaa':95)

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah:35)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Anfaal:72)

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal:74)

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Anfaal:75)

Apakah kamu akan mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyatan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah , Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah:16)

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah . Mereka tidak sama di sisi Allah ; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (At Taubah:19).

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah ; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (At Taubah:20)

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah:24).
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah . Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (At Taubah:41)

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta ijin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. (At Taubah:44).

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At Taubah:73).
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)", jikalau mereka mengetahui. (At Taubah:81)

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. (At Taubah:88)

Nabi s.a.w telah ditanya: Apakah yang dapat dibandingkan dengan jihad pada jalan Allah? Nabi s.a.w menjawab: Kamu tidak akan sanggup melakukannya. Pertanyaan tersebut diulang sehingga dua atau tiga kali. Tetapi baginda masih menjawab: Kamu tidak akan sanggup melakukannya. Pada kali yang ketiganya baginda bersabda: Perumpamaan orang yang berjihad pada jalan Allah samalah seperti seorang yang selalu berpuasa dan selalu melakukan ibadat malam serta taat kepada ayat-ayat Allah. Beliau tidak merasa letih dari puasa dan sembahyangnya sehinggalah orang yang berjihad pada jalan Allah itu kembali (HR Muslim).

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya keluar berjuang di jalan Allah sepagi atau sepetang adalah lebih baik daripada dunia dan isinya (HR Muslim)

Sesungguhnya seorang lelaki telah datang kepada Nabi s.a.w dan bertanya: Siapakah orang yang paling baik dari kalangan manusia? Nabi s.a.w menjawab: Seseorang yang berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya. Lelaki itu bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Nabi s.a.w menjawab: Seorang mukmin yang berada di kaki bukit dan beribadat kepada Allah serta menjauhkan manusia dari kejahatannya (HR Muslim).

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Allah tersenyum (reda) terhadap dua orang lelaki, salah seorang darinya membunuh yang seorang lagi namun kedua-duanya dimasukkan ke dalam Syurga. Para sahabat bertanya: Bagaimana boleh terjadi begitu wahai Rasulullah? Baginda bersabda: Seseorang yang ikut berperang pada jalan Allah lalu beliau mati syahid, kemudian orang yang membunuh tadi telah bertaubat dan Allah telah menerima taubatnya. Setelah memeluk Islam beliau juga turut keluar berperang pada jalan Allah, kemudian beliau juga mati syahid
(HR Muslim).

(sumber: www.risalahislam.com).

Rabu, 21 Januari 2015

"Media Sosial Berdampak Penyakit Hati (Riya' & Ujub)"

"Media Sosial Berdampak Penyakit Hati (Riya' & Ujub)"

      Media Sosial khususnya Facebook selain memiliki sisi dampak positif, juga memikiki dampak negatif. Salah satu sisi negatif  Facebook dan sosial media lainnya adalah menyuburkan sikap Riya' atau ingin dipuji orang lain dan Ujub yaitu berbangga diri atau pamer.

     Penyebabnya adalah populernya istilah dan perilaku yang sering disebut Narsis atau Selfie. 
Narsis atau Narsisisme berasal dari bahasa Inggris atau narsisme yang berasal dari bahasa Belanda yang artinya adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang terlalu berlebihan.
Selfie dalam istilah bahasa indonesia Indonesia yaitu Swafoto. foto narsisis adalah jenis foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau telepon genggam atau HP.
               
     Riya' dan Ujub termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam dan wajib dijauhi oleh setiap Muslim. Keduanya adalah termasuk akhlak tercela (akhlaqul madzmumah).
    Kali ini kita akan mengulas lebih dalam tentang makna Riya' dan Ujub yang juga menjadi fenomena tersendiri di kalangan pengguna media sosial yaitu para remaja, terutama para pengguna Facebook.

Banyak Facebooker yang mengupdate status yang menyatakan bahwa dirinya baru saja melakukan sebuah amal ibadah, misalnya, membuat status "habis buka puasa nih" atau mempublikasikan amal ibadah dan kebaikan lainnya. Tidak sedikit orang yang  pamer kekayaan seperti rumah, mobil, HP, dll. dan hal ini sangat potensial sekali menjadi sikap 'Ujub.

PENGERTIAN RIYA'
     Arti Riya' adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia dan/atau melakukan ibadah atau kebaikan dengan disertai niat ingin dipuji manusia --tidak ikhlas berniat semata-mata karena Allah SWT.
Pengertian Riya' menurut para ulama:
  • Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu (Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Baari).
  • Riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. (Imam Al-Ghazali, Ihya' 'Ulumuddin)
     Dengan demikian, Riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia, dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain, dengan harapan agar orang lain memberikan pujian atau penghormatan kepadanya yang telah berbuat baik.
 

Ayat Al-Qur'an dan Hadist tentang perbuatan Riya':
Dalam QS. Asy-Syuura:20, Allah SWT menjelaskan, perbuatan Riya' akan menghapus amal kebaikan. Pahala amal ibadah musnah karena digantikan oleh pujuan/penghormatan manusia.
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”.

Rasulullah Saw menyatakan, Riya' termasuk syirik kecil, yaitu perbuatan menyekutukan Allah SWT.
"Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadapmu ialah syirik kecil, lalu ditanya oleh sahabat, apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Kemudian baginda bersabda: itulah Riya’. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

"Wahai sekalian manusia, jauhilah kesyirikan yang tersembunyi!” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu syirik yang tersembunyi?” Beliau menjawab, “Seseorang bangkit melakukan sholat kemudian dia bersungguh-sungguh memperindah sholatnya karena dilihat manusia.
Itulah yang disebut dengan syirik yang tersembunyi.”
[HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi]

PENGERTIAN 'UJUB
    Ujub adalah membanggakan diri, takjub, atau berbangga diri, baik muncul dalam hati saja, maupun menunjukkannya (perbuatan) kepada orang lain.
Imam Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengutip hadits: “Tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman (takjub) seseorang kepada dirinya sendiri (‘Ujub)” (HR. Imam Tabrani).

Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri secara berlebihan, niscaya Allah SWT akan menjatuhkan martabatnya.”

Sufyan Ats-Tsauri meringkas makna ‘ujub sebagai berikut: 
"Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya”.
Tingkatan Ujub yang tertinggi adalah Takabur atau Sombong, yakni menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Ibnul Qayyim berkata : "Sesungguhnya hati manusia dihadapi oleh dua macam penyakit yang amat besar jika orang itu tidak menyadari adanya kedua penyakit itu akan melemparkan dirinya kedalam kehancuran dan itu adalah pasti, kedua penyakit itu adalah riya dan takabur, maka obat dari pada riya adalah : (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dan obat dari penyakit takabur adalah : (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)".
Mari kita manfaatkan media sosial untuk hal positif seperti berbagi informasi, inspirasi, tausiyah dalam kebenaran dan silaturahmi, bukan untuk menumbuhkan sifat-sifat tercela seperti Riya dan Ujub. Wasalam